Pembatal Keislaman (1): Syirik
dalam Ibadah kepada Allah
Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab berkata “Pembatal keislaman yang
pertama: syirik dalam beribadah kepada Allah”
Penjelasan:
Perkara terbesar yang menjadikan seseorang murtad adalah syirik dalam
beribadah kepada Allah yaitu dia beribadah kepada Allah juga beribadah kepada
selain-Nya. Seperti menyembelih untuk selain Allah, nadzar untuk selain Allah,
sujud kepada selain Allah, meminta pertolongan kepada selain Allah dalam
perkara yang tidak mampu melaksanakannya melainkan hanya Allah. Ini adalah
sebesar-besar jenis kemurtadan.
Allah telah berfirman:
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka
pasti Allah mengharamkan baginya surga dan tempatnya ialah neraka”. (Al-Maidah
72)
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni segala dosa selain (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang
besar”. (An Nisaa: 48)
“Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah maka
sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”.(An Nisaa: 116)
Maka kesyirikan adalah jenis kemurtadan yang paling berbahaya, yaitu
seseorang beribadah kepada selain Allah dengan salah satu dari macam-macam
ibadah, seperti doa, menyembelih, nadzar, istighotsah (minta diselamatkan dari
perkara yang sulit dan membinasakan), isti’anah (memohon pertolongan) dalam
perkara yang tidak mampu untuk melaksakannya melainkan hanya Allah subhanahu
wata’ala, berdoa kepada mayit, istighotsah kepada kuburan, meminta pertolongan
kepada orang yang telah mati. Ini adalah jenis kemurtadan yang paling berbahaya
dan paling besar, mayoritas orang yang mengaku Islam telah terjatuh padanya,
mereka membangun kuburan dan thowaf padanya, menyembelih untuknya, bernadzar
dan mendekatkan diri padanya. Mereka mengatakan bahwa hal ini dalam rangka
mendekatkan diri mereka kepada Allah, mereka mendekatkan diri padanya dengan
anggapan bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah.
Kenapa mereka tidak mendekatkan diri kepada Allah secara langsung dan
meninggalkan tempat-tempat yang menyesatkan ini? Hendaknya mereka mendekatkan
diri kepada Allah (secara langsung) karena sesungguhnya Allah itu maha dekat
dan memenuhi permintaan. kenapa kalian mendekatkan kepada makhluk kemudian
kalian mengatakan: “para makhluk itu mendekatkan diri kami kepada Allah”.
Apakah Allah itu jauh?!
Apakah Allah telah menutup pintu-pintu-Nya?! Apakah Allah tidak
mengetahui dan tidak mendengar makhluk-Nya?! tidak melihat apa yang mereka
kerjakan?!
(Ketahuilah) Allah yang Maha Mulia dan Maha Tinggi adalah dekat dan
memenuhi permintaan.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka
(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang
berdoa apabila ia memohon kepada-Ku”. (Al-Baqarah: 186)
“Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya akan
kuperkenankan bagi kalian”. (Ghofir: 60)
Sesungguhnya Allah adalah dekat dan memenuhi permintaan, kenapa kalian
pergi dan berdoa kepada selain Allah?! Kemudian kalian mengatakan: hal ini bisa
mendekatkan diri kami kepada Allah (hal ini seperti ucapan orang-orang musyrik
yang dikisahkan Allah)
“Kami tidak beribadah kepada mereka melainkan supaya mereka
mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (Az Zumar: 3)
Yakni seolah-olah kamu menganggap bahwa Allah tidak mengilmui dan
mengetahui, demikianlah syetan dari kalangan jin dan manusia menghias-hiasi
untuk mereka dalam keadaan mereka mengaku Islam, bersaksi bahwa tidak ada
sesembahan yang hak melainkan hanya Allah, mereka sholat dan puasa akan tetapi
mereka mencampuri amalan-amalan mereka dengan syirik besar maka mereka keluar
dari agama islam dalam keadaan mereka sholat, puasa dan haji, orang yang
melihat mereka menyangka bahwa mereka muslimin.
Maka sudah sepantasnya mengetahui hal ini, bahwa syirik kepada Allah
adalah dosa yang paling berbahaya dan paling besar. Bersamaan dengan bahayanya
dan jeleknya syirik ini ternyata banyak dari orang-orang yang mengaku Islam
telah terjatuh padanya, mereka tidak menamainya sebagai perbuatan syirik akan
tetapi mereka menamainya sebagai tawasul atau meminta syafaat, atau mereka
menamainya dengan nama-nama selain syirik, akan tetapi nama-nama itu tidak bisa
merubah hakekat sesuatu, kalau perbuatan tersebut adalah syirik tetap kita
katakan syirik (walaupun mereka menamainya dengan nama selain syirik).
Ini (syirik) adalah jenis kemurtadan yang paling berbahaya dan paling
banyak terjadi padahal syirik ini jelas di dalam Al-Quran dan sunnah Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam. Seruan dan peringatan serta ancaman dari perbuatan
syirik sangat jelas sekali, tidaklah lewat satu surat di dalam Al-Qur’an
melainkan memperingatkan dari perbuatan syirik, bersamaan dengan ini mereka
membaca Al-Qur’an, akan tetapi tidak menjauhi perbuatan syirik.
Mungkin akan datang seseorang dan mengatakan: “Mereka adalah orang-orang
bodoh, mereka mendapatkan udzur dengan kebodohan mereka tersebut.”
Maka kita katakan:
Sampai kapan dia akan bodoh? Sedangkan Al-Qur’an dibacakan, mereka
menghafal Al-Qur’an dan membacanya, sungguh telah tegak hujjah atas mereka
dengan sampainya Al-Qur’an kepada mereka.
“Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar supaya dengannya aku
memberi peringatan kepada kalian dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur’an
kepada (mereka).” (Al-An’am: 19)
Setiap orang yang telah sampai Al-Qur’an kepadanya, maka sungguh telah
tegak hujjah atasnya dan tidak ada udzur baginya.
Asy Syaikh Muhammad bin Abdil
Wahhab berkata, “Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan
mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik)
itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An Nisaa’: 116)
Penjelasan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.” (An Nisaa’:
48)
Ayat ini menunjukkan bahwa syirik adalah dosa yang paling besar,
dimana Allah tidak akan mengampuni pelakunya, melainkan apabila dia mau
bertaubat darinya.
“dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu.” (An
Nisaa’: 48)
Dosa selain dari syirik seperti zina, minum khamr, mencuri, makan
riba, ini semua selain dari syirik, dosa-dosa ini di bawah kehendak Allah, pelakunya
adalah pelaku dosa besar dan mereka adalah orang-orang fasik, akan tetapi
mereka tidak terjatuh dalam perbuatan syirik hanya saja mereka terjatuh dalam
dosa-dosa besar dan hal ini mengurangi keimanan mereka dan mereka dihukumi
dengan kefasikan. Seandainya mereka mati dan belum bertaubat maka mereka di
bawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak maka Allah akan mengampuni mereka
dengan tauhid yang ada pada mereka dan jika berkehendak maka Allah akan
mengadzabnya disebabkan dosa-dosa mereka, kemudian tempat kembali mereka adalah
jannah (surga) disebabkan tauhid yang ada pada mereka. Ini adalah tempat
kembali para pelaku dosa besar selain syirik.
Dan firman-Nya:
“Dan Dia mengampuni segala dosa selain syirik.”
Ini menunjukkan bahwa seluruh dosa adalah di bawah syirik, sedangkan
syirik adalah dosa yang paling besar dan paling berbahaya, maka hal ini
menunjukkan tentang bahayanya syirik dan syirik adalah dosa yang paling besar.
Asy Syaikh Muhammad bin Abdil
Wahhab berkata, Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang yang
mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah. Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya
jannah dan tempat kembalinya adalah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang
zhalim seorang penolongpun.” (Al-Maidah: 72)
Penjelasan:
Ini adalah akibat di akhirat, yaitu diharamkan atasnya jannah, yakni
dia terhalang untuk masuk jannah selama-lamanya, tidak ada baginya sesuatu yang
diinginkan di dalamnya.
Kemana dia akan pergi? Apabila dia tidak termasuk pendududk jannah,
kemana dia akan pergi? Apakah dia akan menjadi sesuatu yang tidak ada?! Tidak!
Tempat kembalinya adalah neraka yang dia kekal di dalamnya.
“Tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun.”
(Al-Maidah: 72)
Yang dimaksud orang-orang zhalim adalah orang-orang musyrik. Karena
syirik adalah kezhaliman, bahkan dia merupakan kezhaliman yang paling besar.
“Tidak ada bagi mereka (penolong)”
yaitu tidak ada seorangpun yang mampu mengeluarkan mereka dari neraka
atau memberi syafa’at untuk mereka di sisi Allah, sebagaimana pelaku dosa besar
diberi syafa’at dan mereka bisa keluar dari neraka dengan syafa’at. Adapun
orang-orang musyrik (maka) tidaklah bermanfaat bagi mereka syafa’at orang-orang
yang memberi syafa’at.
“Dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim”
yaitu orang-orang musyrik
“Dan bagi orang-orang zhalim itu tak ada teman setia seorangpun dan
tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya”
(Al-Mukmin:18)
Seorang musyrik tidaklah diterima syafa’at padanya –kita berlindung
kepada Allah-
“dan tempatnya adalah neraka” tempatnya yaitu tempat tinggalnya dan
itulah sejelek-jelek tempat tinggal, tidak ada tempat tinggal baginya selain
neraka selama-lamanya.
Maka dosa yang demikian bahayanya dan sangat jelek akibatnya, apakah
boleh pura-pura bodoh dan tidak mengetahuinya serta tidak memperingatkan
darinya?! dan dikatakan: “biarkanlah manusia, biarkan para penyembah kubur,
para penyembah kubah-kubah, biarkan orang-orang yang ada perkara-perkara
kemurtadan padanya selama dia masih mengaku Islam, maka dia seorang muslim dan
hadapilah orang-orang Atheis.”
Maka kita katakan:
Mereka (orang-orang musyrik) lebih besar dan lebih berbahaya daripada
orang-orang Atheis.
Asy Syaikh Muhammad bin Abdil
Wahhab berkata “Dan termasuk dari perbuatan syirik adalah menyembelih untuk
selain Allah, seperti menyembelih untuk jin dan kubur”
Penjelasan:
Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menyebutkan contoh
ini karena ini banyak terjadi dan manusia bermudah-mudahan padanya, mereka
menyembelih untuk selain Allah, mereka menyembelih untuk jin dalam rangka
menjaga diri dari kejelekan mereka, juga dalam rangka berobat dan penyembuhan.
Kebanyakan manusia bermudah-mudahan dalam masalah ini dan ini banyak
terjadi, padahal ini adalah syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari
agamanya dan ini bukan perkara yang mudah. Syetan akan berkata kepadanya:
“Sembelihlah seekor anak domba, sembelihlah seekor ayam”, ini adalah (perkara
yang) mudah, tetapi dia tidak melihat kepada syirik. Maka orang-orang yang
menyembelih seekor lalat (untuk selain Allah) masuk neraka, yang dilihat
bukanlah yang disembelih, tetapi yang dilihat adalah akidah (keyakinan)nya,
yang dilihat adalah niat dalam hati dan tidak memperhatikan perkara syirik.
Yang dilihat bukanlah nilai sesuatu yang disembelih, karena yang menyembelih
seekor lalat (untuk selain Allah) masuk neraka.
Manusia bermudah-mudahan dalam hal ini, hanya sekedar ingin ditunaikan
kebutuhannya atau agar syetan memberitahunya sesuatu yang tersembunyi atau
memberitahu tentang harta yang hilang atau yang selainnya dari perkara-perkara
yang manusia bertanya kepada jin tentangnya. Maka dia keluar dari agamanya
–kita berlindung kepada Allah- dia murtad dalam perkara yang dia anggap mudah,
padahal perkaranya sangat berbahaya.
(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah http://www.ulamasunnah.wordpress.com
dari 10 Pembatal Keislaman, karya Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, penerjemah:
Al-Ustadz Abu Hamzah Abdul Majid, Penerbit Cahaya Ilmu Press, Yogyakarta)
Pembatal Keislaman (1): Syirik dalam Ibadah kepada Allah
Reviewed by suqamuslim
on
Mei 26, 2018
Rating:
Reviewed by suqamuslim
on
Mei 26, 2018
Rating:

Tidak ada komentar: