Pembatal Keislaman (Penutup)
Tidak ada perbedaan pada
seluruh pembatal ini antara orang yang bersenda gurau, bersungguh-sungguh dan
orang yang yang takut kecuali orang yang dipaksa. Semua pembatal ini) adalah
sebesar-besar perkara yang menyebabkan bahaya dan perkara yang paling banyak
terjadi, maka sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk berhati-hati darinya
dan mengkhawatirkan dirinya terjatuh dalam pembatal-pembatal keislaman ini
–kita berlindung kepada Allah dari perkara-perkara yang menyebabkan kemurkaan-Nya
dan pedih siksa-Nya
Penjelasan:
Tidak ada perbedaan pada pembatal-pembatal yang sepuluh ini antara
orang yang bersungguh-sungguh yaitu sengaja dengan ucapan dan perbuatannya dan
orang yang bersenda gurau yaitu orang yang tidak sengaja hanya saja dia
memperbuatnya karena bergurau dan main-main. Di sini ada bantahan terhadap al
Murji’ah yang mengatakan: “Seseorang tidak dikafirkan sampai dia meyakininya
dalam hati.” Tidak ada perbedaan antara orang yang bersungguh-sungguh, bersenda
gurau atau orang yang takut yang dia melakukan perkara-perkara ini dalam rangka
menolak rasa takut, maka yang wajib atasnya adalah bersabar.
(kecuali orang-orang yang dipaksa) apabila dia dipaksa untuk
mengucapkan kalimat kekufuran dan tidak mungkin baginya untuk terbebas dari
kedzaliman ini melainkan dengannya, maka Allah telah memberi keringanan baginya
dalam masalah tersebut.
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat
kemurkaan Allah) kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang
dalam beriman (dia tidak berdosa).” (An Nahl: 106)
Sebagaimana hal ini terjadi pada ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu,
yang sebab turun ayat di atas adalah padanya radhiyallahu ‘anhu tatkala
orang-orang kafir menangkapnya dan menyiksanya sampai dia mau berkata tentang
Muhammad shallallahu alaihi wasallam, yakni mencela Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam. Kemudian dia datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam dalam keadaan menyesal dan takut akan apa yang terjadi pada dirinya,
maka nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadanya:
“Bagaimana engkau dapati hatimu?” dia menjawab: “Tetap tenang dalam
keimanan” beliau bersabda: “Apabila mereka mengulanginya, maka ulangilah!”
dan Allah menurunkan firman-Nya:
“Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam
beriman (dia tidak berdosa).” (An Nahl: 106)
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi
wali-wali dan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbiuat demikian
niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara
diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.” (Ali Imron: 28)
(Kita berlindung kepada Allah dari perkara-perkara yang menyebabkan
kemurkaan-Nya dan pedih siksa-Nya). Yaa Allah kabulkanlah.
-Selesai-
(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah http://www.ulamasunnah.wordpress.com
dari 10 Pembatal Keislaman, karya Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, penerjemah:
Al-Ustadz Abu Hamzah Abdul Majid, Penerbit Cahaya Ilmu Press, Yogyakarta)
November 2008
Pembatal Keislaman (Penutup)
Reviewed by suqamuslim
on
Mei 26, 2018
Rating:
Reviewed by suqamuslim
on
Mei 26, 2018
Rating:

Tidak ada komentar: